Ngeselin banget gak sih diremehkan? kesel? kesel?! Lebih kejam lagi saya diremehkan sama orang yang harusnya lebih alim, lebih religius, lebih sesuai AlQuran dan Assunah.. Emang situ aja yang gitu?
Baik, awalnya saya mau langsung cerita bagaimana saya diremehkan, tapi karena teman saya nanya sama saya apa itu salafi, saya harus jelaskan dulu. Saya tidak ingin semua orang jadi antipati tanpa tau apa yang diantipatikannya.
Siapa salafi?
Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan ‘kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi). Sumber: muslim.or.id
Jadi, salafi adalah sebutan bagi orang-orang yang mengikuti Nabi SAW, para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin di manapun dia berada, di zaman manapun dia hidup (tentunya setelah zaman nabi SAW dan sahabatnya, kalo enggak ya berarti anda lebih salaf lagi Nabi SAW).
Sampe sini saya setuju! Karena agama ini asalnya dari mereka. Dan sesuai hadits di atas, sesuai logika kalo kita beragama mengikuti orang-orang terbaik dalam agama ini. Kalo saya gak ngikutin salaf, berarti saya gak percaya sama Alquran saya. Kalo saya gak percaya sama mereka, saya gak baca buku-buku hadits, dll. Implikasinya panjang rek!! makanya menjadi islam artinya kita pengikut salaf (pengikut orang-orang terdahulu). Yang saya ikutin bukan ortu saya, bukan bapak saya, bukan kiai saya. tapi dari Sumbernya langsung (yaitu Nabi SAW dan para sahabatnya!). Sebagaimana perkataan imam syafii:
“Bila suatu masalah ada haditsnya yang sahih dari Rasulullah SAW menurut kalangan ahli hadits, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku kan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati” (Abu Nu’aim)
Jadi salafi (kalo menurut pengertian diatas) bukanlah organisasi, bukan juga partai, tapi merupakan seluruh umat islam. Setidaknya setiap muslim yang percaya dan mengamalkan alquran, masih baca dan percaya hadits.
Salafi kok kayak gini?
Mungkin sudah populer di masyarakat, di mana kalo ada yang mengkritik ini salah, itu salah. Ini bid’ah itu bid’ah adalah salafi. Seolah-olah mereka fungsinya cuma menghukumi ini salah itu salah, ini bid’ah itu bid’ah. Juga tidak jarang seseorang bahkan mengkafirkan hanya karena sikapnya yang menurut oknum salafi tidak boleh. Minimal ada sikap meremehkanlah seperti yang saya alami. (marilah berinstropeksi salafi-salafi)
“Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]
Siang ini, saya menyempatkan waktu mendaftar Badar (belajar bahasa Arab dasar). Badar ini diselenggarakan di MPR, dekat kos saya liburan semester ini. Saya sedang ingin mempelajari bahasa arab. Paling gak nanti biar bisa cas.. cis.. cus dengan teman saya yang dari Arab-Klewer itu.
Begitu saya masuk ke dalam toko buku saya ucapkan “Assalamualaikum”, lalu dijawab “walaikum salam”.
Langsung ditanyai pertanyaan aneh (apa nadanya yang aneh ya?), “nyari apa mas?”.
Mungkin akan lebih pas kalo saya ditanya:“Mari mas, silahkan liat-liat buku kami, atau nyari buku apa mas?”
Langsung saya sampaikan saya ingin mendaftar pelatihan bahasa Arab.
Orang itu menjawab: “Sebenarnya saya juga belum dapat info lebih lanjut tentang pelatihan itu, tapi ini kami dititipin formulirnya!”
Dia menyodorkan formulir itu ke saya.
Dari awal masuk sampe sekarang saya merasa dia punya anggapan lain terhadap saya. Saya berprasangka baik saja, mungkin itu cara pembawaannya.
Akhirnya orang itu bertanya:“Asalnya dari mana mas?”
Saya bimbang sejenak. “Asal apa nih mas? Tempat tinggal dll dkk”
Dia bilang asal daerah, saya jawab asal daerah saya.
Lalu dia tanya: “Kerja di Djarum Super mas?”
Saya: “enggak mas. Saya masih kuliah?” (saya baru ngeh kalo saya pake jaket yang ada logo djarum super nya kecil banget! pemberian teman saya yang ikut seleksi wawancara dari perusahaan itu) “Saya kuliah di UGM”
Saya baca pengumuman, briefing di Mesjid Al-Ashri Pogung Rejo.
Kataku: “briefingnya besok ya mas? mesjid Al-Ashri itu dimana ya?”
Dia pergi terus bilang ” Coba X, kamu tunjukkin ke dia. Sekalian pake peta!”
Aku tahu semua letak mesjid di Pogung. Hanya saja, namanya lupa. Letak mesjid ini memang jarang kulewati! Akhirnya aku tau juga letaknya!
Yang aku tidak suka bagaimana cara dia memandangku, bagaimana dia menjudgeku semata-mata karena aku pake jaket yang kebetulan ada logo djarum supernya. Juga sikapnya yang meremehkan aku seolah-olah aku ini sangat-sangat-sangat bodoh. Seolah-olah kalian lebih baik karena kalian sudah sedari dulu mengaji? Ah, aku telah diremehkan!
Imam Ahmad ra berkata, “Manusia butuh kepada mudarah (menyikapinya dengan lembut) dan lemah lembut dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa kekerasan kecuali seseorang yang terang-terangan melakukan dosa, maka wajib atasmu melarang dan memberitahunya,” (Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah [1/212] dan Ibnu Rojab, Jami’ul ‘Ulum al Hikam [2/272]).
Salafi salah kaprah
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Al-Fath:29)
Itu mas, salaf yang sebenarnya. Bukan malah anda menjudge saya seperti itu.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (Al-Hujurat:11)
Jangan-jangan anda itu salaf sempalan. Kelompok salaf yang hanya baik kepada sesama mereka saja. Lantas apa bedanya anda dan salaf anda dengan kelompok-kelompok islam sperti HTI, Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, PKS, FPI yang anda judge sebagai sempalan atau hizbiyun menurut versi anda? Dari pengamalan anda, mungkin anda menganggap Al-Fath:29 hanya untuk kalian sesama Salafi?
Saya yakin, mungkin ilmu agama saya dibanding ilmu agama kamu perbandingannya seperti anak belajar berhitung sama yang kalkulusnya dapat A. Tapi akhirnya jika saya berilmu maka saya menjadi seperti anda, saya memilih tidak akan berilmu saja. Lebih baik saya menjadi orang bodoh saja. Atau menjadi pura-pura lupa.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan tanpa sengaja.” (Al-Baqarah: 286)
Hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah telah meletakkan (tidak menjatuhkan hukuman) dari umatku kesalahan yang dilakukan karena tidak disengaja, kelupaan dan hal yang dilakukan karena dipaksa.” (HR. Ibnu Majah)
Bahkan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah saja mendukung saya:
Kebodohan/ketidaktahuan merupakan salah satu penghalang dalam memvonis kafir terhadap individu, sebab keimanan seseorang erat hubungannya dengan pengetahuan (ilmu) sedangkan mengetahui sesuatu yang diimani merupakan syarat dari keimanan kepadanya (sesuatu tersebut).
Firman Allah subhaanahu wa ta’ala, artinya: “Dan tidaklah Kami mengazab (suatu kaum) hingga Kami mengutus kepada mereka seorang Rasul.” (QS. Al-Isrâ’: 15). Sumber: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/message/2473
Ketimbang saya menjadi menjadi muslim yang muslim lain tidak aman dari gangguan saya:
“Seorang muslim ialah yang menyelamatkan kaum muslimin (lainnya) dari (kejahatan) lidah dan tangannya. Seorang mukmin ialah yang dipercaya oleh kaum beriman terhadap jiwa dan harta mereka, dan seorang muhajir ialah yang berhijrah meninggalkan dan menjauhi keburukan (kejahatan). (HR. Ahmad)
Buktikan kalo anda adalah orang-orang yang benar-benar meneladani Nabi SAW. Tidak seperti anda yang seperti Anda ini, berantipati terhadap sesama muslim yang belum “ngaji” seperti Anda!
Itulah mengapa saya lebih memilih ikut ke komunitas seperti PKS, maupun komunitas tarbiyah ketimbang pada akhirnya saya menjadi picik, kolot, dan sombong seperti Anda!
Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]
Walaupun saya mencintai manhaj, dan cara kalian berislam. Tapi saya hanya takut, jika saya terus bersama komunitas kalian saya akan jadi seperti kalian yang jadinya seperti itu tuh… Walaupun saya ingin mengkaji kembali ilmu agama dan hadits dari forum-forum kalian. Apakah kalian menghendaki kami mengikuti kalian yang seperti ini, dan meminta seluruh umat islam bersatu diatas hal yang seperti ini?
Inilah makanya saya bilang oknum. Saya yakin tidak semuanya begitu. Saya yakin diantara mereka ada juga yang tidak seperti oknum ini. Dan semoga tidak semua seperti oknum ini! Makanya jangan salahkan ketika orang-orang menuduh anda sebagai Wahabi (hanya pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), bukan salafi.
Pembaca tulisan ini juga harus membaca tulisan selanjutnya. Karena ada artikel lanjutan dan islah yang kami bicarakan.
Filed under: Daily journal , berlemahlembutlah, oknum salafi, salafi, wahabi





hahaha..
masalah gara-gara jaket yang saya berikan kepadamu ham? waduw waduw.. saya engga ikutan lho.
logo djarumnya emank ngga enak dipandang kali. hehehe.. makanya dulu saya kasih ke km aja. haha..
—
btw, itu prasaan kamu aja kali ham merasa diremehin, padahal maksud orang itu khan engga bgitu. Kamu su’udzon aja kali. Atau mungkin muka orang itu yang udah dari sononya senga’ gitu. hehe.. bawaan dari lahir tuh.
Sudahlah, akhi…
ya, memang di dunia ini ada saja yang selalu merasa dirinya adalah yang paling benar. Pengikut fanatik emang selalu begitu. Seakan kebenaran mutlak sudah ia dapatkan. Padahal itu semua hanya berupa keyakinan. YAKIN. Bukan KEBENARAN yang absolut. Dan semua orang berhak yakin atas apa yang ia yakini benar, asalkan ga merugikan orang lain. Dan contoh di atas itu adalah keyakinan yang membawa dirinya menyakiti orang lain, merugikan orang lain, sungguh sikap yang tidak bijak dalam menyikapi keberagaman di masyarakat.
wah…gara2 aku nanya kmu ham ttg salafi…kmu postingan sepanjang ini???
wah ternyata salafi tuh udah jadi salah kaprah ya… aku kira salafi dulu tuh ya pengikut ajaran Rasul… tapi aku deneger2 sekarang kok jd kayak kelompokan atau gimana gitu… makane aku tanya kamu,,, “salafi apaan ham???” getooooh… bukane aku gak tau salafi ham… kekekeke… tp bagus si,,,kamu jd postingan sehebat ini !!! aku jg rada males ama org2 yg meremehkan !!! ngrasa gak dihargai aja…
sabar, sabar, sabar….
orang sabar disayang Allah..
i’am..
saya masih belum paham benar mengenai salafi itu.. terlebih, dalam posting sepanjang ini pun, penjelasan mengenai salafi masih agak kurang..
terlepas dari istilah salafi tsb [yg nantinya put baca2 lg], saya juga kurang setuju dengan mereka yang berpikiran sempit dan cenderung meremehkan orang yang bukan [atau belum] seperti mereka.
seringkali juga put diremehkan hanya karena jilbab yang tidak sesuai standar golongan tertentu. bukannya menyalahkan karena teguran halus mereka.. tapi cara mereka itu yg gak pantes..
bukan kita, manusia dengan segala cela dan kurang, yang berhak menilai keimanan seseorang..
sabar..
ahak..ahak..
kalo masalah remeh-meremehkan, saya sudah 3 tahun lebih dulu mengalami hal ini. “tau apa kamu tentang agama? kerjamu tiap hari kan cuma ngurusin komputer,” kurang lebihnya begitu. sobrun sahaja…
typo…harusnya yang 3 tahun itu jadi 2 tahunan. maap…
eh, pernah denger legenda id-wordpress tentang Peleton 2007? gyehehehe…
tp bnyak low crita orang berhasil krn di remehin — kya Sarfilianty Anggiani –..klo memandang dr sudut laen kan itu bisa jadi motivasi ya ga..
mending muhammadiyah ternyata..hehehhe
ga salah saya dulu sekolah muhammadiyah..
muslim cendekia (katanya)..
uda saya bilang kan…
orang seperti itu sombong2,dan cenderung meremehkan….
klo kita udah bukan anggota mereka,uda dipandang sebelah mata….HUH!
pikiran mereka picik2 seh….dasar!!
saia juga sempet ngalamin kayak gitu…
sok alim,sok suci…HUH!
salam,
Secara definisi salafi itu harusnya satu aja karena mereka berusaha memahami Al’Quran dan Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat alias berusaha mengikuti manhaj salaf.
Tetapi dalam perjalanannya, salafi pun bisa terbagi ke beberapa bagian. Ada yang sangat keras dalam mengkritik orang lain, ada juga yang bersikap sederhana dan tidak berlebihan. Biasanya salafi yang aliran keras ini mengikuti seikhnya yang ada di Yaman, seikh Muqbil contohnya. Ada salafi yang lebih moderat contohnya seperti seikh Yusuf Al-Qaradhawi. Salafi aliran keras inipun tidak segan-segan mengkritik salafi moderat, kadang-kadang mereka juga menyesatkan salafi moderat. Mereka menganggap merekalah salafi yang sebenarnya.
Pada umumnya pandangan aqidah mereka sama, tapi ada sedikit perbedaan dalam hal fiqh. Juga pendekatan dengan orang-orang yang melakukan bid’ah. Ada yang pendekatannya secara keras ada juga yang secara halus. Sayangnya yang kelihatan di masyarakat adalah pendekatan yang keras.
Mungkin karena mereka kurang belajar tasawuf karena pada anti tasawuf. Ketika saya mengatakan tasawuf, bukanlah tasawuf yang beraliran sesat ya yang banyak melakukan perkara-perkara yang melanggar aqidah dan bid’ah lainnya. Yang saya maksudkan adalah tasawuf yang murni yaitu yang belajar akhlak. Syeikh Ibn Taimiyah juga bertasawuf, tapi tasawuf yang murni.
Kembali lagi ke permasalah pengikut-pengikut salafi ini. Mereka itu kurang belajar akhlak, sehingga tidak tahu cara mendekati orang. Itulah masalahnya.
Kalau saya sendiri, saya agak enggan berkumpul dengan komonitas yang keras itu. Saya sudah menemukan komunitas salafi moderat di Malaysia ini (kebetulan saya di Malaysia sekarang). Silakan kunjungi website ini kalau mau berdiskusi:
al-fikrah.net
al-ahkam.net
Tapi ingat ya, diskusinya dalam bahasa Melayu.
wassalam
[...] ini tentang islah atau perbaikan dan klarifikasi untuk tulisanku sebelumnya. Tulisan itu akhirnya mempertemukan dan membuat saya kenal dengan beliau (nama aslinya baiknya [...]
kok gw gak pernah diremehkan ya sama orang2 seperti ini? padahal gw pengen ngomong di depan mreka… and the war begin
kok kalo aku baca kesannya kamunya lagi bad mood aja waktu itu ham, makanya salah2 prasangka. hal yang sering terjadi pada saya masalahnya
sesama salafy juga saling bertikai hebat loooh. ngga usah diapa2 in salafy juga ntar bubar sendiri
bener tuh diamin aja ntar jg bubar gerak wkakakakkak
Assalamualikum wr wb.
Wah emosi sekali tulisannya.
Dari awal saya baca seperti tidak ada yang salah dalam pertanyaan-pertanyaan akh salafy.
Kenapa ada begitu curiga dan emosional.
bahkan anda telah men-judge yang bukan-bukan karena hanya pertanyaan “kerja di Djarum Super ya?”
Sebuah pertanyaan yang amat normal.
Bahkan ditempat saya hanya dianggap sebagai pembuka percakapan.
“Rumah dmana mas ?”
“Kerja dimana ya, kok baru lihat ya dilingkungan sini?”
“baru pindahan ya?”
dan banyak pertanyaan senada.
Apa anehnya …ya akhi?
Baru saya sadar ternyata ujung-ujungnya kekesalannya hanya menjadi alasan pembenarannya akan ikut bergabung dengan PKS.
Begini neh orang Hizbi gigih bener menghujat Salaf.
Ini contoh orang yang menilai baik buruknya Manhaj Salaf dari sikap orang-orang tertentu saja.
Sangat tidak relevan.
Jazakallah